Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

PROKLAMASIKU Pernyataan Sikap Seorang Blogger Inshaf

Bismillah, sejak awal berblogging ria saya sudah langusng tertarik dengan tingkat kerumitannya. Apa lagi setelah salah seorang sahabat memberikan mukaddimah seputar pembelajaran HTML (meski sampe sekarang perkembangannya masih belum jauh-jauh amat meninggalkan kata "tidak tahu sama sekali"). Berawal dari seorang admin warnet di desa Tulungrejo, kecamatan Pare, Kab. Kediri, Prov. Jawa Timur, Indonesia, september, 2008. Awalnya di warnet yang jaraknya tidak begitu jauh dari asrama Lagligo/ASSET itu saya berniat melatih kemampuan listening dengan menonton film (salah satunya Troy sampai 4 kali pemutaran), adegan dalam film (troy) yang masih saya ingat sampai hari ini adalah saat Achiles menantan pasukan tersisa yang panglimanya telah dia lumpuhkan dengan sekali tusuk untuk berduel one on one dengannya. Jepreet..

Tadi malam, menjelang tidur saya berfikir mengenai beragam artikel yang telah saya post ke semua blog saya (iya sejak mengenal blog saya telah mengelola setidaknya 5 blog yang hampir tidak ada diantaranya menuai hasil memuaskan), tidak saya pungkiri sampai kemaren, kebiasaan COPAS artikel masih sering saya lakukan (meski saat ini artikel yang saya ambil hanya dari situs-situs publik seperti mediaindonesia.com, tempo.com, seputar-indonesia.com, tribun-timur.com, dan beberapa tutorial blog, koleksi template, tidak ketinggalan juga tutorial SEO). Setelah saya pertimbangkan (sampai akhirnya tidak tidur-tidur) saya putuskan untuk terus menekan kebiasa COPAS tersebut. Olehnyalah, melaui postingan yang saya ketik sendiri ini, saya ingin kawan-kawan sekalian mengetahui beberapa hal yang ingin saya proklamirkan, sebagai upaya seorang Blogger yang ingin Menjunjung tinggi tali persahabatan sesama rekan blogger seplanet dan setanah air, dengan perincian sebagai berikut:

1. Tidak lagi menjarah artikel.
2. Tidak lagi menjarah gadget.
3. Berupaya untuk tidak lagi mengganti Template blog ini (belajar bersyukur dengan apa yang telah ada dan dimiliki).
4. Menjunjung tinggi tali persahabatan yang terbangun sesama rekan blogger setanah air.


sebagai gantinya saya akan mencoba membudayakan menulis diary, dengan menggunakan blog ini sebagai wadahnya. Oh iya,.. agar point-point yang telah saya proklamirkan diatas tetap bertahan, saya sangat mengharapkan teguran kawan-kawan sekalian apabila dikeesokan harinya saya melanggar. HIDUP BLOGGER...!!!

(jika dirasa kurang harap sarankan melalu kotak komentar yang tersedia)

KEMAPANAN ATURAN CEGAH LEJITAN DAYA PIKIR ANDA

“Tidak banyak orang yang dapat dengan tenang mengungkapkan pendapat-pendapatnya yang berbeda dari prasangka-prasangka lingkungan sosial mereka. Kebanyakan orang bahkan tidak mampu membentuk pendapat-pendapat seperti itu”, – Albert Einstein.

Kalau anda tak dapat memecahkan suatu masalah, itu mungkin karena anda terperangkap dalam kemapanan aturan. Kita semua memiliki aturan – pola-pola berpikir yang sudah tertanam, yang keliru kita anggap sebagai kebenaran. Aturan-aturan kita itu terbentuk sedara alami. Dengan sering digunakan, ide-ide menjadi aturan. Kalau kemapanan aturan terbentuk, semua ide yang bertentangan dengan aturan tersebut diabaikan.

Aturan tidaklah selalu buruk. Mereka adalah seperti rel kereta api. Kalau anda ingin mengikuti aturan, boleh saja. Tetapi seperti tujuan-tujuan yang tidak terjangkau oleh rel kereta api, ada solusi-solusi yang tak dapat dicapai dengan aturan-aturan kita. Satu-satunya cara untuk sampai kesana adalah keluar dari relnya.
Aturan-aturan menghambat pemikiran inovatif karena tampaknya demikian benar. Mereka sembunyikan berbagai solusi unggul yang ada tetapi di luar kemapanan aturan kita. Solusi-solusi hebat ini hanya akan ditemukan dengan melanggar aturan.

Tak seorangpun kebal terhadap kemapanan aturan. Bahkan Einstein pun selama bertahun-tahun terhambat oleh salah satu prasangkanya. Tetapi baginya, aturan yang melanggar itu tampaknya tak dapat dilanggar.

Mungkin anda tertarik menemukan hukum-hukum alam semesta, tetapi masih banyak masalah berat yang harus anda pecahkan. Mungkin masalah-masalah anda bahkan lebih berat daripada masalah Einstein. Mungkin anda bersaing dengan orang-orang cerdas di lingkungan yang berubah-ubah setiap kali anda memikirkannya. Mungkin tantangan anda tampaknya mustahil. Tetapi ada jawabannya – kalau anda dapat berlajar melanggar aturan.

Hambatan sesungguhnya kalau kita dihadapkan dengan masalah yang mustahil adalah di dalam diri kita sendiri. Pengalaman-pengalaman kitalah, asumsi-asumsi kita yang keliru, separuh kebenaran, penyama-rataan yang salah kaprah, dan kebiasaan-kebiasaan kita, yang menghalangi kita dari solusi-solusi yang brilian. Ide-ide baru yang hebat-hebat, solusi-solusi yang penting itu, ADA. Hanya saja, mereka berada diluar pikiran yang muncul. Kalau tidak, pasti sudah ditemukan oleh seseorang. Anda harus melanggar aturan untuk memecahkan masalah-masalah mustahil.

“Terkadang saya bertanya kepada diri sendiri, bagaimana saya bisa menjadi orang yang mengembangkan Teori Relativitas. Alasannya, saya rasa, adalah karena orang dewasa yang normal tidak pernah berhenti memikirkan masalah-masalah ruang dan waktu. Semuanya ini adalah hal-hal yang telah diajarkan ketika saya masih kanak-kanak. Tetapi perkembangan intelektual saya terlambat, sehingga saya baru mulai bertanya-tanya waktu dan ruang setelah saya dewasa”,-Albert Einstein.

ANTUSIAS (Hati Anda Adalah Sumber Energi Bagi Tim)

Apakah yang menyelamatkan Harley-Davidson? Saya percaya, Antusiasme. Antusiasme Beals dengan kedua belas eksekutif lainnyalah yang membeli perusahaan ini dan menyelamatkannya pada tahun 1981. Juga antusiasme para karyawan yang tetap tinggal diperusahaan ini dalam keadaan sulit demi memproduksi motor yang lebih baik ketika 40 persen tenaga kerjanya dipangkas. Dan tentunya juga antusiasme para pelanggan – yang telah lama menganggap Harley-Davidson sebagai rajanya motor – yang telah mejadikan sukses keuangan perusahaan seperti sekarang.

Antusiasme itu tak ada gantinya. ketika para anggota tim antusias, seluruh timnya menjadi sangat berenergi. Dan energi itu menghasilkan kekuatan. industriawan Charles Schwab mengatakan, "Orang bisa sukses pada hampir apapun yang mereka lakukan dengan Antusias".

Ingat-ingatlah orang yang membawakan sikap antusias kedalam kerjasamanya, maka akan anda sadari bahwa mereka...

1. Bertanggung jawab atas antusiasme mereka sendiri
orang-orang sukses mengerti bahwa sikap adalah suatu pilihan - dan itu termasuk antusiasme. Orang yang menantikan tenaga eksternal untuk membantu mereka memicu antusiasme mereka sendiri selalu tergantung pada belas kasihan orang lain. Mereka berubah panas atau dingin tergantung pada apa yang terjadi disekeliling mereka pada suatu saat. Tetapi, orang-orang positif bersikap positif karena memilih demikian. Kalau anda ingin bersikap positif, bersemangat, dan antusias, anda perlu bertanggung jawab untuk bersikap seperti itu.

2. Bertindak hingga menjadi Antusias
Anda tidak bisa menang atau kalah kalau tidak memulai. Itulah salah satu alasan mengapa anda perlu bertindak hingga menjadi antusias. Anda tidak bisa memutuskan lingkaran sikap apati dengan menunggu hingga anda mau melakukannya. Dalam buku Failing Forward, John C. Maxwell juga membahas hal serupa,

"Orang yang ingin keluar dari lingkaran ketakutannya seringkali... percaya bahwa mereka harus menghilangkan ketakutan mereka untuk memutuskan lingkarannya. Tetapi,.. Anda tidak mungkin menunggu motivasi untuk menggerakkan anda. Untuk menaklukkan ketakutan, anda harus merasakan ketakutan tersebut tetapi tetap mengambil tindakan... anda harus mendorong diri sendiri. satu-satunya cara untuk memutuskan lingkaran ini adalah menghadapi ketakutan anda dan mengambil tindakan - seberapa kecil atau tidak berartipun tampaknya tindakan tersebut. untuk mengatasi ketakutan, Anda harus memulai."

Demikian juga halnya, kalau anda ingin antusias, anda perlu bersikap seperti itu. Kalau anda tunggu antusiasme anda bangkit sebelum bertindak, bisa-bisa anda tidak akan pernah antusias.

3. Percaya kepada apa yang mereka lakukan
Jadi bagaimanakah orang-orang yang merasa tidak antusias membangkitkan antusiasme? salah satu cara terbaiknya adalah dengan memikirkan segala aspek positif menyangkut pekerjaan anda. Percaya kepada apa yang anda lakukan dan FOKUS pada kepercayaan-kepercayaan yang positif itu akan membantu anda bertindak dan berbicara positif tentang apa yang sedang anda lakukan. Itu akan membantu memicu api antusiasme pada diri anda, dan begitu itu dimulai, anda tinggal mengobarkan nyalanya saja.


4. Bergaul dengan orang-orang yang antusias
Kalau anda ingin menunjang Antusiasme anda, bergaullah dengan orang-orang yang antusias. Penulis buku-buku tentang psikologi dalam meraih kemenangan, Denis Waitly, Mengatakan, "Antusiasme itu menular sifatnya. sungguh sulit untuk tetap bersikap netral atau cuek dihadapan seseorang yang befikir positif". dan ketika anda bentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang antusias, kemungkinan bagi tim ini sungguh tiada habisnya.

Untuk meningkatkan Antusiasme, Anda perlu:
  • Tunjukkan rasa mendesak
  • Bersedialah berbuat lebih
  • Berusahalah meraih kesempurnaan

KEKUATAN PIKIRAN (orang Yang Menjadi Mitra Thomas A. Edison Dengan “Memikirkannya”)

Sejatinya, “pikiran adalah sesuatu”, dan sesuatu yang kuat ketika dicampur dengan ketetapan tujuan, keuletan, dan -hasrat membara- untuk menerjemahkan pikiran-pikiran tersebut menjadi harta atau objek material lainnya.

Edwin C. Barnes menemukan kebenaran bahwa manusia memang -think and grow rich-, atau berpikir dan menjadi kaya. Penemuannya tidak datang dalam sekali perenungan. Penemuan ini memang datang sepotong demi sepotong, diawali dengan hasrat membara untuk menjadi rekan kerja Thomas Edison yang hebat.

Salah satu ciri khas hasrat Barnes adalah ketetapan hati. Ia ingin sekali bekerja bersama, bukan untuk, Edison. Cermati penjelasannya tentang bagaimana ia menerjemahkan hasratnya kedalam kenyataan, dan anda akan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang ketiga belas asas menuju kekayaan.

Ketika hasrat, atau impuls gagasan, ini pertama kali berkelebat dibenaknya, ia tidak sedang dalam posisi untuk menindaklanjutinya. Ada dua masalah mengadang. Ia tidak kenal Pak Edison, dan ia juga tidak punya cukup uang untuk membeli tiket kereta api ke Orange, New Jersey. Masalah-masalh bertambah seperti ini sudah cukup untuk membuat orang pada umumnya mundur dari usaha mereka mewujudkan hasrat tersebut. Akan tetapi, hasrat yang dimilikinya bukan hasrat biasa! Ia sudah berketetapan untuk mencari cara mewujudkan hasratnya sehingga akhirnya memutuskan tetap pergi naik kereta barang ke East Orange.

Ia datang ke laboratorium Pak Edison dan menyatakan maksud kedatangannya, yakni untuk berbisnis dengan sang penemu tersebut. Mengenang percakapan antara Barnes dan Edison pada pertemuan pertemuan pertama, beberapa tahun berikutnya, Pak Edison berkata, “ia berdiri di Hadapan saya, seperti gelandangan biasa, tetapi ada sesuatu dalam ekspresi wajahnya yang menimbulkan kesan bahwa ia telah berketetapan untuk meraih apa yang selama ini dikerjanya. Saya belajar, dari pengalaman saya bersama orang-orang selama bertahun-tahun, bahwa ketika seseorang benar-benar –menghasratkan- sesuatu sehingga ia mau mempertaruhkan seluruh masa depan dengan melakukan satu hal, pasti ia akan memperolehnya. Saya memberinya kesempatan yang ia minta, karena saya melihat ia sudah berketetapan hati untuk bertahan sampai ia berhasil. Waktu membuktikan bahwa saya tidak salah.”

Apa yang dikatakan Barnes muda ke Pak Edison pada saat itu tidak sepenting apa yang dipikirkannya. Edison sendiri sudah mengatakannya! Jelas bukan penampilan anak muda itu, yang sama sekali tidak meyakinkan, yang memberinya pekerjaan dikantor Edison. Apa yang ia pikirkan-lah yang berperan dalam hal ini.

Jika signifikansi pernyataan ini dapat ditangkap oleh setiap orang yang membacanya, pembahasan selanjutnya (mengenai kekuatan pikiran dalam ranah think and grow rich ini) tidak diperlukan lagi.

Barnes tidak memperoleh kemitraan yang ia inginkan dengan Edison pada wawancara pertama. Akan tetapi, ia mendapatkan kesempatan untuk bekerja dikantor Edison, dengan upah rendah, melakukan hal-hal kecil yang tidak penting bagi Edison, akan tetapi penting sekali bagi Barnes, karena pekerjaan tersebut memberinya kesempatan untuk memamerkan “dagangannya” di tempat di mana ia ingin sang “mitra” melihatnya.
Bulan berganti bulan. Sepertinya tidak terjadi apa-apa dalam usaha meraih cita-cita yang diinginkan, yang sudah Barnes tetapkan dihati sebagai –tujuan utama pastinya-. Akan tetapi, sesuatu yang penting telah terjadi dipikiran Barnes. Ia terus memperkuat hasratnya untuk menjadi rekan usaha Edison.

Benar kata para ahli jiwa. “ketika seseorang benar-benar siap untuk sesuatu, sesuatu tersebut akan datang”. Barnes sudah siap untuk bermitra usaha dengan Edison; lagi pula, ia sudah memutuskan untuk tetap siap sampai ia memperoleh apa yang ia cari.

Ia tidak menghibur diri dengan berkata, “yah, apa gunanya? Lebih baik aku berubah pikiran dan mencoba bekerja sebagai wiraniaga.” sebaliknya, ia berkata, “aku datang ke sini untuk berbisnis dengan Edison, dan aku akan berusaha mewujudkan cita-cita tersebut meski itu berarti kerja keras seumur hidup.” Ia tidak main-main! Betapa lain ceritanya jika saja orang mau memiliki -tujuan yang pasti-, dan terus berjuang untuk tujuan tersebut sampai hal itu menjadi sebuah obsesi yang sangat kuat!
Mungkin Barnes muda sendiri tidak menyadari hyal tersebut, tetapi kemauan kerasnya, keuletannya dalam memperjuangkan sebuah hasrat, niscaya mengalahkan semua hambatan, dan memberinya kesempatan yang selama ini ia cari.

Ketika kesempatan datang, bentuknya mungkin lain, dan dari arah yang berbeda dari Bernes duga. Inilah salah satu ciri kesempatan. Kesempatan menyelinap lewat pintu belakang, dan kadang tersamar dalam bentuk kesialan, atau kekalahan sementara. Mungkin inilah sebabnya begitu banyak orang gagal mengenali kesempatan.

Pak Edison baru saja menyempurnakan sebuah peralatan kantor baru, yang saat itu dikenal sebagai Mesin Pendikte Edison (selanjtnya disebut Ediphone). Para wiraniaganya tidak begitu antusias terhadap mesin ini. Mereka tidak yakin alat ini dapat dijual dengan mudah. Barnes melihat kesempatannya. Kesempatan tersebut menyelinap diam-diam. Bersembunyi dibalik sebuah mesin berbentuk aneh yang tidak menarik bagi siapapun selain Barnes dan si penemu.

Barnes tahu ia dapat menjual Mesin Pendikte Edison ini. Ia menawarkan diri kepada Edison, dan segera memperoleh kesempatannya. Ia berhasil menjual mesin tersebutl. Bahkan, saking suksesnya ia menjual, Edison memberinya sebuah kontrak untuk mendistribusikan dan memasarkan alat tersebut ke seluruh penjuru negeri. Kerja sama usaha tersebut menghasilkan slogan “dibuat oleh Edison dan dipasarkan oleh Barnes.” Berkat aliansi usaha ini, Barnes menjadi kaya dan memperoleh banyak uang, namun ia juga meraih sesuatu yang jauh lebih hebat: ia membuktikan bahwa orang benar-benar dapat “Berpikir Dan Menjadi Kaya”.

Berapa nilai uang -hasrat- asli Barnes bagi dirinya, saya tidak tahu. Mungkin sekitar dua atau tiga juta dolar, tetapi, jumlah, berapa pun besarnya, menjadi tidak berarti dibandingkan harta penting yang ia peroleh dalam bentuk pengetahuan bahwa dorongan pikiran yang tidak berwujud dapat ditransmisikan menjadi wujud fisik dengan menerapkan prinsip-prinsip yang sudah diketahui.

Barnes secara harfiah membayangkan dirinya bermitra dengan edison yang hebat! Ia membayangkan kekayaan. Ia tidak memiliki apa pun untuk memulainya, kecuali kemampuan untuk mengetahui apa yang ia inginkan, dan ketetapan hati untuk memperjuangkan hasrat tersebut sampai berhasil mewujudkannya.

Ia tidak punya uang untuk memulai. Ia tidak cukup berpendidikan. Ia tidak punya pengaruh. Akan tetapi, ia punya inisiatif, keyakinan, dan kemauan untuk menang. Dengan kekuatan tak berwujud ini, ia menjadikan dirinya orang nomor satu bersama penemu paling hebat sepanjang sejarah.

Sekarang, mari kita melihat situasi berbeda dan mempelajari orang dengan bukti kekayaan berwujud namun kehilangan semuanya, karena ia berhenti tiga kaki sebelum yang sedang ia cari.

BERDISIPLIN (Dimana Ada Kemauan, Pasti Ada Kemenangan)

Disiplin artinya mengerjakan apa yang tidak mau anda kerjakan agar dapat mengerjakan apa yang mau anda kerjakan. Disiplin artinya membayar harga dalam hal-hal kecil agar anda dapat membeli hal yang lebih besar. Dan sama seperti halnya tak ada individu yang sukses tanpa disiplin, juga tak ada tim yang sukses tanpa disiplin. Itulah sebabnya tim membutuhkan pemain-pemain yang berdisiplin.

Untuk menjadi pemain yang diinginkan tim, orang harus mengembangkan disiplin dalam tiga bidang. Mereka harus memiliki..

1. Pikiran yang didisiplinkan
Anda tak mungkin sampai terlalu jauh dalam kehidupan ini kalau tidak menggunakan akal anda. Untuk itu, anda hanya perlu menggunakan pikiran yang telah diberikan Tuhan kepada anda. Penulis drama George Bernard Shaw berkomentar, “tidak banyak orang yang berpikir lebih dari dua atau tiga kali pertahunnya; saya telah pendapatkan reputasi internasional dengan berpikir satu dua kali setiap minggunya”. Kalau anda biarkan pikiran anda aktif, secara teratur menghadapi tantangan-tantangan mental, dan terus memikirkan hal-hal yang tepat, akan anda kembangkan pikiran yang didisiplinkan yang akan membantu anda dengan apapun yang anda upayakan.

2. Perasaan yang didisiplinkan
Dalam soal perasaan hanya ada dua pilihan: menguasai atau dikuasai. Itu tidaklah berarti bahwa untuk menjadi pemain tim yang baik, anda harus mematikan perasaan anda. Melainkan bahwa hendaknya anda tidak membiarkan perasaan anda menghalangi anda untuk melakukan apa yang seharusnya anda lakukan atau malah mendorong anda untuk melakukan apa yang seharusnya tidak anda lakukan.

Contoh klasik dari apa yang mungkin terjadi kalau seseorang tidak mendisiplinkan perasaannya dapat dilihat dalam kehidupan pegolf legendaris, Bobby Jones. Seperti Tiger Woods, Jones pegolf besar. Ia mulai main pada tahun 1907 diusia lima tahun. Menjelang usia dua belas tahun, ia sudah meraih prestasi yang tidak berhasil dicapai kebanyakan pegolf seumur hidup. Di usia empat belas tahun, ia sudah memenuhi syarat untuk mengikuti kejuaraan amatir. Tetapi Jones tidak menang ketika itu. Masalahnya paling tepat digambarkan oleh julukan yang diberikan kepadanya: “tukang lempar stik golf”. Jones sering kehilangan kesabarannya – dan kemampuannya untuk bermain baik.

Seorang pegolf yang lebih tua, yang disebut Jones sebagai kakek Bert, menasihatinya, “kamu takkan pernah menang hingga kamu kendalikan temperamenmu itu”. Jones mengikuti nasihatnya dan mulai berupaya mendisiplinkan perasaannya. Diusia dua puluh satu tahun, Jones berkembang dan menjadi salah seorang pegolf terbesar dalam sejarah, pensiun di usia dua puluh delapan tahun setelah memenangkan grand slam. Komentar kakek Bert merangkum situasinya: “Bobby baru berusia empat belas tahun ketika ia menguasai permainan golf, tetapi ia baru berhasil menguasai dirinya setelah berusia dua puluh satu tahun”.

3. Tindakan yang didisiplinkan
Albert Hubert mengatakan, “orang-orang yang menginginkan susu janganlah duduk-duduk ditengah ladang dan berharap sang sapi mendatangi mereka”. Menajamkan pikiran dan mengendalikan perasaan anda memang penting, tetapi tindakanlah yang membedakan pemenang dari pecundang. Pelari jarak pendek yang memanfaatkan angin, pengacara yang memenangkan kasus-kasus, dokter yang terfokus diruang darurat, orangtua yang pulang sesuai janjinya ketimbang bekerja lembur adalah orang yang mendisiplinkan tindakan mereka. Dan orang-orang yang bergantung pada mereka akan diuntungkan.

Untuk menjadi pemain tim yang lebih berdisiplin...
  • Kuatkanlah kebiasaan bekerja anda
  • Terimalah tantangan
  • Jinakkanlah lidah anda

MEMPERBESAR (Memberikan Nilai Tambah Bagi Rekan-Rekan Satu Tim Sungguh Berharga)

Para anggota tim selalu senang dan kagum terhadap seorang pemain yang dapat membantu mereka ketingkatan berikutnya, seseorang yang memperbesar mereka dan memberdayakan mereka agar sukses. Orang-orang seperti itu adalah seperti pemain tengah tim Boston Celtics, Bill Russel, yang masuk Hall of Fame, yang mengatakan, “ukuran terpenting dari seberapa baik permainan saya adalah seberapa lebih baik saya menjadikan rekan-rekan satu tim saya bermain”.

Pemain-pemain yang memperbesar rekan-rekan satu tim mereka memiliki beberapa kesamaan:

1. Mereka menghargai rekan-rekan satu tim mereka
Industriawan Charles Schwab mengatakan, “saya belum pernah menjumpai seseorang, yang seberapa tinggipun posisinya, yang tidak lebih berprestasi dan lebih keras berupaya berkat dukungan ketimbang kritikan”. Rekan-rekan satu tim anda tahu, apakah anda percaya kepada mereka. Prestasi orang biasanya mencerminkan harapan orang-orang yang mereka hormati.

2. Mereka menghargai apa yang dihargai rekan-rekan satu tim mereka
Pemain-pemain yang memperbesar pemain lainnya lebih dari sekedar menghargai sesama anggota tim mereka; mereka mengerti, apa yang dihargai rekan-rekan satu tim mereka. Mereka mendengarkan untuk menemukan apa yang dibicarakan rekan-rekan satu tim mereka dan mereka perhatikan untuk melihat untuk apa mereka membelanjakan uang mereka. Pengetahuan seperti itu, disertai dengan hasrat untuk menjalin hubungan dengan sesama pemain, menciptakan hubungan yang kuat diantara mereka. Dan itu memungkinkan karakteristik berikutnya.

3. Mereka memberikan nilai tambah bagi rekan-rekan satu tim
Memberikan nilai tambah sesungguhnya adalah inti dari memperbesar sesama. Yaitu menemukan cara-cara untuk membantu sesama meningkatkan kemampuan serta sikap mereka. Seorang yang memperbesar, mencari bakat dan keunikan sesamanya, lalu membantu mereka meningkatkan kemampuan tersebut demi keuntungan mereka sendiri dan keseluruhan tim. Seorang yang memperbesar, dapat membawa sesamanya ketingkatan yang sama sekali baru.

4. Mereka jadikan diri mereka lebih berharga
Mereka berusaha menjadikan diri mereka lebih baik, bukan saja karena itu menguntungkan pribadi mereka sendiri, melainkan juga karena itu membantu mereka dalam membantu sesama. Anda tidak mungkin memberikan sesuatu yang tidak anda miliki. Umpamanya, pemain basket hebat seperti Karl Malone dibantu oleh pengoper yang hebat seperti John Stockton. Kalau anda mau meningkatkan kemampuan seorang rekan satu tim, jadikanlah diri sendiri lebih baik.

Kalau anda mau menjadi pemain tim yang memperbesar, lakukanlah yang berikut:
  • Percayalah kepada sesama anda sebelum mereka percaya kepada anda
  • Layanilah sesama sebelum mereka melayani anda
  • Berikanlah nilai tambah bagi sesama sebelum mereka memberikan nilai tambah bagi anda

DAPAT DIANDALKAN (Semua Tim Memilih Pemain-Pemain Yang Dapat Diandalkan)

Keterandalan belum tentu selalu soal hidup dan mati, seperti bagi Christopher Reeve, tetapi jelas itu penting bagi sukses setiap tim. Anda akan tahu ketika ada orang-orang dalam tim anda yang dapat anda andalkan. Semua orang dalam tim juga tahu. Demikian jugalah, anda kenal mereka-mereka yang dapat anda andalkan.

Izinkan saya menjelaskan apa yang saya anggap sebagai inti dari keterandalan:

1. Motif-motif yang murni
Aristoteles percaya bahwa “segala yang kita perbuat adalah demi sesuatu yang lain”. Jelaslah bahwa ia percaya bahwa anda tidak bias mempercayai motif siapapun. Saya tidak sependapat. Kebanyakan saya tidak mencap orang. Saya berusaha meluruskan motif-motif saya, dan saya dorong rekan-rekan sesama tim saya untuk juga bersikap demikian. Tetapi, kalau seseorang dalam tim selalu mendahulukan diri dan agendanya sendiri dibandingkan apa yang paling baik bagi tim, ia telah membuktikan dirinya tak dapat diandalkan. Dalam soal kerjasama, motif itu penting.

2. Tanggung jawab
Kualitas lain dari seorang pemain tim yang dapat diandalkan adalah rasa tanggung jawab yang kuat. Penulis buku paling laris menurut harian New York Times sekaligus mantan editor Michael Korda menekankan,”setelah dipikir-pikir, kualitas yang dimiliki semua orang sukses ... adalah kemampuan memikul tanggung jawab”. Sementara memotivasi menjelaskan mengapa seseorang dapat diandalkan, tanggung jawab mengindikasikan bahwa ia mau dapat diandalkan. Hasrat itu secara efektif digambarkan oleh pujangga Edward Everett Hale, yang menulis,

Aku hanyalah satu,
Tetapi toh aku utuh.
Aku tidak dapat mengerjakan segalanya
Tetapi toh aku dapat mengerjakan sesuatu;
Dan karena aku tak dapat mengerjakan segalanya
Aku takkan menolak mengerjakan sesuatu
Yang dapat kukerjakan.

Anggota-anggota tim yang dapat diandalkan memiliki hasrat untuk mengerjakan hal-hal yang mampu mereka kerjakan.

3. Pemikiran yang mantap
Gene Marine, majalah editor Bellefontaine Examiner, pernah mengirimkan seorang wartawan olahraga baru untuk meliput suatu pertandingan penting, tetapi setelah pemuda ini kembali, ia tidak punya cerita. Marine menanyakan mengapa, dan sang wartawan hanya menjawab, “karena tak ada pertandingan”.
“tak ada pertandingan? Apa yang terjadi?” Marine bertanya.
“Stadiumnya ambruk”, jawab sang wartawan.
“lalu mana cerita tentang ambruknya stadium tersebut?” tanya sang editor.
“kan itu bukan tugas saya, pak”, jawab sang wartawan. Potensi berita hangat lenyap karena ketidak-mampuan sang wartawan muda untuk berpikir dengan baik.
Keterandalan berarti lebih besar dari sekedar mau memikul tanggung jawab. Hasrat itu juga harus ditunjang dengan pertimbangan yang baik, yang akan sungguh bernilai bagi tim.

4. Kontribusi yang konsisten
Kualitas terakhir dari seorang pemain tim yang dapat diandalkan adalah konsistensi. Kalau anda tak dapat selalu mengandalkan rekan-rekan satu tim anda, maka anda sesungguhnya tak pernah dapat mengandalkan mereka. Konsistensi menuntut lebih dari sekedar bakat konsistensi menuntut kedalaman karakter yang memungkinkan orang mengambil tindak-lanjut – seberapa letihpun, seberapa tak berkonsentrasipun, seberapa kewalahanpun mereka. Seperti yang dikatakan oleh Winston Churchill, mantan perdana menteri inggris yang fasih serta teguh dari abad yang lalu, “melakukan yang terbaik belumlah cukup; terkadang kita perlu melakukan apa yang diminta”.

Untuk meningkatkan keterandalan anda:
  • Periksalah motif-motif anda
  • Temukanlah seberapa jauh perkataan anda dapat dipegang
  • Carilah seseorang yang dapat meminta pertanggung jawaban anda

KOMPETEN (Kalau Anda Tidak Bisa, Tim Anda Tidak Akan Mau)

Bob Taylor itu orang yang sederhana. Bicaranya halus, dan seandainya anda berjumpa dengannya di jalanan, anda mungkin takkan menyangka bahwa ia memiliki sebuah perusahaan yang mencapai omzet $30 juta pada tahun 1999. Tetapi kalau anda melewatkan waktu dengannya, anda akan hampir seketika mengenali kempetensinya yang luar biasa.

Kata kompeten terkadang diartikan “memadai”. Ketika saya membicarakan kualitas kompetensi yang diinginkan pada rekan-rekan sesama tim, yang saya maksudkan adalah definisinya yang paling dasar, yaitu “sangat memenuhi syarat”. Anggota-anggota tim yang kompeten sangat handal dan sangat memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas dengan baik.

Orang-orang yang sangat kompeten memiliki beberapa kesamaan:

1. Mereka berkomitmen terhadap kesempurnaan
John Johnson dalam buku Christian Excellence, menulis, “sukses mendasarkan nilai kita dibandingkan dengan sesama. Kesempurnaan mengukur nilai kita dengan mengukur kita terhadap potensi kita sendiri. Sukses memberikan upahnya kepada sedikit orang walaupun diimpikan oleh banyak orang. Kesempurnaan itu tersedia bagi semua makhluk hidup tetapi diterima oleh.... sedikit orang”. Alasan Bob mengatakan bahwa anda dapat membiarkan kualitas menurun sementara menerima orang-orang baru ke dalam tim adalah karena standar-standarnya sendiri sudah demikian tinggi sehingga penurunan kecil takkan berarti banyak baginya. Ia dan orang-orangnya sungguh berkomitmen terhadap kesempurnaan.

2. Mereka tidak pernah puas dengan hasil rata-rata
Kata biasa-biasa saja secara harfiah berarti “separuh jalan pada sebuah gunung berbatu-batu”. Biasa-biasa saja artinya melaksanakan tugas separuh jalan, membiarkan diri masih jauh dari puncak. Orang yang kompeten tidak pernah puas dengan hasil yang rata-rata. Mereka fokuskan enerji dan upaya mereka pada apa yang menjadi bidang keahlian mereka, sambil mengerahkan segala kemampuan yang mereka miliki.

3. Mereka perhatikan hingga ke detilnya
Dale Carnegie mengatakan, “janganlah takut memberikan kemampuan anda yang terbaik untuk tugas-tugas yang tampaknya sepele. Setiap kali anda menaklukkan satu tugas, anda menjadi semakin kuat. Kalau anda selesaikan tugas-tugas kecil dengan baik, tugas-tugas besar cenderung beres dengan sendirinya”. Kata Bob mulai membuat gitar, ia kerjakan semua tugas-tugas kecilnya sendiri. Sekarang ia lebih berfungsi sebagai pemimpin tim dan perancang prosesnya serta peralatan merakitnya. Tetapi ia dengan orang-orangnya tetap memperhatikan detil. Itulah yang telah memeberi mereka tempat beregengsi dalam industri mereka: Taylor adalah pembuat gitar akustik terbesar didunia.

4. Mereka berprestasi secara konsisten
Orang-orang yang berkompeten berprestasi secara konsisten. Mereka selalu mengarahkan kemampuan mereka yang terbaik, dan itu penting. Kalau 99.9 persen sudah cukup baik, mereka akan dihasilkan 811,000 rol film 35 milimeter yang cacat tahun ini, 22,000 cek akan didebit dari rekening bank yang keliru dalam 60 menit mendatang, dan 12 bayi akan diberikan kepada orangtua yang keliru hari ini saja.
Saya bukan musisi, tetapi saya diberitahu bahwa kalau anda coba selusin alat musik yang serupa dari kebanyakan pembuat gitar, akan anda temukan beberapa yang baik, banyak yang rata-rata, beberapa yang buruk. Tetapi seorang teman yang produser/penulis lagu mengatakan bahwa kalau anda memilih sebuah gitar Taylor, takkan pernah anda temukan satu pun yang buruk. Itulah konsistensi.

JIKA INGIN KOMPETENSI ANDA MENINGKAT, MAKA:
 Fokuskanlah Diri Secara Profesional
 Perhatikanlah Detil-Detilnya
 Berikanlah Perhatian Lebih Besar Pada Pelaksanaannya

MAMPU BERKOMUNIKASI (Sebuah Tim Adalah Banyak Suara Dengan Satu Hati)

Kongkritnya, Tim tak akan dapat bekerja sama kecuali anda memiliki pemain-pemain tim yang mampu berkomunikasi. Tanpa komunikasi, anda tak akan memiliki tim, melainkan hanya sekelompok individu.

Kalau anda evaluasi sebuah tim yang baik, akan anda temukan pemain-pemainnya memiliki cirri-ciri umum. Pemain-pemain yang mampu berkomunikasi antara lain:

1. Tidak Mengisolasikan Diri Dari Sesamanya
Masalah utama yang harus diatasi oleh Herman Boone pada timnya yang baru dibentuk adalah keterisolasian. Pemain ras yang satu mengisolasikan diri terhadap pemain ras yang lain. Setiap kali seorang pemain terisolasi, itu menjadi masalah bagi tim. Kalau seluruh bagian tim terisolasi, masalahnya semakin besar. Semakin rekan satu tim saling mengenal satu sama lain dan mengetahui sasaran serta metode-metode timnya, semakin mereka akan mengerti, semakin mereka akan peduli. Seorang pemain yang bersemangat serta memiliki informasi dan koneksi sungguh berharga bagi tim.

2. Memudahkan Rekan-Rekan Satu Timnya Berkomunikasi Dengan Mereka
Kebanyakan masalah komunikasi dapat diatasi dengan kedekatan. Itulah sebabnya Herman Boone menggunakannya untuk membuat timnya berbaur. Menempatkan pemain-pemain dari ras yang berbeda dalam satu bis dan memaksa mereka tidur sekamar menjadikan komunikasi lebih mungkin terjadi. Kalau anda perhatikan pemimpin yang baik dan pemain-pemain yang berdampak dari sebuah tim, akan anda temukan bahwa mereka bukan saja tetap berhubungan dengan rekan-rekan satu tim mereka; mereka juga memastikan rekan-rekan satu tim mereka dapat dengan mudah menghubungi mereka.

3. Mengikuti Aturan Dua Puluh Empat Jam
Ketika beberapa orang dihadapkan dengan konflik atau kesulitan antar pribadi, mereka hindari orang dengan siapa dia bermasalah. Tetapi waktu semata biasanya takkan memperbaiki situasi-situasi. Tanpa penjelasan dari kedua belah pihak, orang cenderung toleran terhadap diri sendiri dan menganggap motif dan perbuatan orang lain negatif. Tanpa komunikasi, situasinya semakin parah.

Itulah sebabnya para anggota tim perlu mengikuti aturan dua puluh empat jam. Kalau anda mengalami kesulitan atau konflik apapun dengan seorang rekan satu tim, jangan biarkan lebih dari dua puluh empat jam berlalu tanpa berusaha membereskannya. Malah, semakin cepat anda mengkomunikasikannya, biasanya semakin baik bagi anda sendiri maupun rekan satu tim anda.

4. Memperhatikan Hubungan-Hubungan Yang Berpotensi Konflik

Hubungan-hubungan membutuhkan perhatian agar berkembang. Terutama hubungan-hubungan yang berpotensi konflik. Salah satu hubungan yang paling rentan dalam tim Titanss Adalah antara Gerry Bertier dengan Julius Campbell keduanya sudah saling membenci sedari awalnya, dan mereka terus beradu kepala. Tetapi dengan berjalannya musim bertanding, akhirnya mereka bersahabat erat. Ketika Bertier lumpuh akibat kecelakaan mobil dan berbaring di rumahsakit, orang pertama yang ditanyakannya adalah julius. Hubungan mereka mungkin berkembang lamban, tetapi tumbuh kuat. Yang dikatakan aristoteles itu benar: “persahabatan adalah buah yang lama masaknya”

5. Menindak-Lanjuti Komunikasi Penting Secara Tertulis
Semakin sulit komunikasinya, semakin penting kita berupaya menjadikannya jelas dan sederhana. Itu seringkali berarti melakukan komunikasi tertulis. Bukanlah suatu kebetulan bahwa kebanyakan pernikahan mengenal akad-nikah, tim rugby memiliki buku peraturan, kemitraan memiliki kontrak. Ketika komunikasi dengan rekan-rekan sati tim anda itu penting, anda akan lebih mudah menyamakan bahasa kalau menuliskannya demi keuntungan semua orang.

UNTUK MENINGKATKAN KOMUNIKASI, ANDA PERLU:
 Bersikap berterus terang
 Bersegera (ikuti aturan dua puluh empat jam)
 Bersikap inklusif

BERKOMITMEN (Tak Ada Juara Yang Setengah Hati)

Banyak orang cenderung menghubungkan komitmen dengan perasaan mereka. Kalau perasaan mereka pas, maka mereka dapat menindak-lanjuti komitmen mereka. Tetapi komitmen sejati tidaklah seperti itu. Komitmen bukanlah perasaan; komitmen adalah kualitas karakter yang memungkinkan kita mencapai sasaran-sasaran kita. Perasaan manusia selalu naik turun, tetapi komitmen itu harus semantap batu karang. Kalau anda menginginkan tim yang mantap-entah itu sebuah bisnis, klub bola, pernikahan, ataupun organisasi sukarela anda harus memiliki pemain-pemain tim yang secara mantap berkomitmen terhadap tim.

Ada hal-hal tertentu yang perlu diketahui setiap pemain tentang berkomitmen:

1. Biasanya komitmen ditemukan ditengah-tengah kesusahan
Orang tidak benar-benar mengetahui apakah mereka berkomitmen terhadap sesuatu hingga mereka dihadapkan dengan kesusahan. Pergumulan menguatkan tekad seseorang. Kesusahan mendorong komitmen, dan komitmen mendorong kerja keras. Dan semakin anda mengupayakan seuatu, sema- kin kecil kemungkinannya anda menyerah. Seperti yang dikatakan oleh pelatih NFL yang masuk Hall Of Fame, Vince Lombardi, “semakin keras anda bekerja, semakin sulit anda menyerah”. Orang-orang yang berkomitmen tidak mudah menyerah.

2. Komitmen tidak tergantung pada bakat atau kemampuan
Terkadang kalau kita membayangkan orang-orang berbakat yang sangat sukses, kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa komitmen itu lebih mudah bagi mereka sebab mereka berbakat. Tampaknya mungkin lebih mudah bagi para atlit kelas satu untuk berlatih, atau artis-artis terampil untuk menyempurnakan hasil karya mereka atau orang-orang yang berbakat bisnis untuk mengusahakan bisnis mereka. Padahal itu tidak benar. Komitmen dan bakat itu tak ada hubungannya-kecuali anda sendiri yang menghubungkannya.

Apakah anda tidak kenal, orang-orang yang sangat berbakat, yang menyia-nyiakan potensi mereka hanya karena mereka tidak mau berbuat apapun ?, dan memangnya anda tidak kenal, orang-orang yang kurang berbakat dibanding anda, tetapi lebih sukses daripada anda ?, itu seringkali adalah, antara lain karena komitmen. Penulis Basil Walsh mengatakan, “kita tidak membutuhkan kekuatan atau kemampuan lebih besar atau peluang lebih besar. Yang perlu kita gunakan adalah apa yang kita miliki”. Kalau kita mau berkomitmen untuk menggunakan bakat yang kita miliki, kita akan menemukan bahwa kita lebih berbakat-dan lebih berharga bagi tim-berbakat komitmen kita.

3. Komitmen timbul karena pilihan, bukan kondisi
Komitmen adalah selalu soal pilihan. Dalam choices, Frederick F. Flash menulis:
Kebanyakan orang mengenang tahun-tahun silam dan mengidentifikasikan suatu tempat dan waktu ketika kehidupan mereka sangat berubah. Entah kebetulan atau karena disengaja, itulah saatnya ketika, karena kesiapan pada diri kita dan kolaborasi dengan kejadia-kejadian yang timbul di sekeliling kita, kita terpaksa dengan sungguh-sungguh menilai ulang diri kita dan kondisi-kondisi kehidupan kita, dan membuat pilihan-pilihan tertentu yang akan memperngaruhi sisa kehidupan kita.
Terlalu banyak orang berpikir bahwa kondisilah yang menentukan pilihan. Lebih sering, pilihanlah yang me-nentukan kondisi. Ketika anda memilih komitmen, anda berikan diri sendiri peluang untuk meraih sukses.

4. Komitmen bersifat kekal ketika didasarkan pada nila-nilai
Membuat komitmen dalam sesaat adalah suatu hal. Setia kepada komitmen adalah hal yang lain lagi. Bagaimanakah anda tetap berkomitmen ?, jawabannya terletak pada apa yang anda jadikan dasar komitmen anda. Setiap kali anda membuat pilihan-pilihan yang didasarkan pada nilai-nilai kehidupan yang mantap, anda berada dalam posisi yang lebih baik untuk mempertahankan tingkat komitmen anda, sebab anda tidak perlu terus menerus mengevaluasi ulang penting tidaknya komitmen anda itu. Seperti menuntaskan persoalannya sebelum diuji. Komitmen terhadap sesuatu yang anda percayai adalah komitmen yang lebih mudah anda juga.

Untuk meningkatkan tingkatan komitmen anda :
 Ikutilah komitmen anda dengan nilai-nilai anda
 Ambillah resiko
 Evaluasilah komitmen rekan-rekan satu tim anda

MAMPU BERKOLABORASI (Bekerja Bersama-Sama Mendahului Menang Bersama-Sama)

Tantangan besar membutuhkan kerjasama yang baik, dan kualitas yang paling dibutuhkan diantara rekan-rekan sesama tim ditengah-tengah tekanan tantangan yang sulit adalah kemampuan berkolaborasi. Kolaborasi adalah lebih daripada sekedar kerjasama. Bekerjasama adalah bekerja bersama-sama secara sepaham. Berkolaborasi adalah bekerja besama-sama secara agresif. Rekan-rekan sesama tim yang mampu berkolaborasi melakukan lebih daripada sekedar bekerja dengan satu sama lain. Masing-masing orang membawakan sesuatu yang memberikan nilai tambah bagi hubungannya dan sinergi bagi timnya. Hasil akhir kerjasama yang kolaboratif selalu lebih besar daripada bagian-bagiannya.

Menjadi pemain tim yang mampu berkoaborasi menuntut perubahan dalam fokus di empat bidang:

1. Persepsi: memandang rekan-rekan sesama tim sebagai kolaborator, bukan kompetitor.
Lihatlah tim yang manapun, maka akan anda lihat potensi persaingan. Saudara sekandung berebut perhatian orang tua. Rekan-rekan sekerja bersaing demi kenaikan upah serta promosi. Pemain bola beradu kepala untuk melihat siapa yang akan menjadi pemain utama dan siapa pemain cadangan. Sebab semua orang memliki pengharapan, sasaran, dan impian, mereka tentu ingin berprestasi. Tetapi bagi anggota-anggota tim yang mampu berkolaborasi, saling melengkapi adalah lebih penting daripada saling bersaing. Mereka persepsikan diri mereka sebagai sebuah unit yang bekerja bersama-sama, dan mereka tidak pernah membiarkan persaingan diantara rekan-rekan satu tim melukai timnya sendiri.

2. Sikap: mendukung, tidak curigaan, terhadap rekan-rekan sesama tim.
Ada orang yang demikian disibukkan dengan kepentingannya sendiri sehingga secara alami curigaan boleh dikata terhadap semua orang, termasuk rekan sesama timnya sendiri. Tetapi menganut cara berpikir di mana anda saling melengkapi ketimbang saling bersaing hanyalah dimungkinkan kalau anda tepis kecurigaan anda dan menjadi pemain tim yang mendukung.

Ini adalah soal sikap. Artinya mengasumsikan bahwa motif orang lain itu baik kecuali terbukti sebaliknya. Kalau anda mempercayai sesama anda, anda akan memperlakukan mereka dengan lebih baik. Dan kalau anda memperlakukan mereka dengan lebih baik, anda dengan mereka akan lebih mungkin menciptakan hubungan kolaborasi.

3. Fokus: berkonsentrasilah pada tim, bukan pada diri sendiri.
Sebagai anggota tim, biasanya anda akan bertanya seperti ini kalau terjadi sesuatu: “apa untungnya bagiku ?” atau “apa untungnya bagi tim ?” kemana anda fokuskan perhatian anda, mengungkapkan apakah anda bersaing dengan sesama anda atau saling melengkapi. Penulis Cavett Roberts mengatakan, “kemajuan sejati dalam bidang manapun adalah perlombaan yang berkesinambungan ketimbang suatu kejaidan tunggal”. Kalau anda fokus pada tim dan bukan hanya pada diri sendiri, anda akan dapat mengoperkan tongkatnya ketika perlu, ketimbang berusaha menyelesaikan perlombaannya sendirian.

4. Hasilnya: menciptakan kemenangan melalui penggandaan
Ketika anda bekerja bersama-sama dengan rekan-rekan sesama tim, anda dapat melakukan hal-hal yang menakjubkan. Kalau anda bekerja sendirian, anda kehilangan banyak peluang menang. Kolaborasi berefek menggandakan terhadap apapun yang anda perbuat sebab kolaborasi bukan saja mengeluarkan keterampilan-keterampilan anda, melainkan juga keterampilan semua anggota tim.

Untuk menjadi pemain tim yang mampu berkolaborasi :
 Berpikirlah sama-sama menang
 Saling melengkapilah
 Keluarkanlah diri anda dari gambarnya

MAMPU BERADAPTASI (Kalau Anda Tidak Mau Berubah Demi Tim, Bisa-Bisa Tim Mengganti Anda)

Point pentingnya adalah Kerjasama dan kekauan pribadi tidak akan pernah cocok. Kalau anda mau bekerjasama dengan baik dan menjadi pemain tim yang baik, anda harus bersedia beradaptasi terhadap tim anda. Profesor Harvard Business School, Rosabeth Moss Kanter mengatakan, “individu-individu yang mau sukses dan berkembang juga akan menguasai perubahan: mereka pandai mengorientasikan ulang kegiatan-kegiatan mereka sendiri maupun orang lain ke arah-arah yang belum pernah dicoba sebelumnya, untuk mencapai prestasi-prestasi yang lebih tinggi tingkatannya.

Pemain-pemain tim yang memperlihatkan kemampuan beradaptasi memiliki karakteristik tertentu. Berikut adalah ciri-ciri pribadi yang mampu beradaptasi :

1. Mau diajar
Diana Nyad mengatakan: “saya bersedia menempatkan diri saya melalui apapun; kepedihan atau ketidak-nyamanan sementara tidak apa-apa bagi saya selama saya dapat melihat bahwa pengalaman tersebut akan membawa saya ke tingkatan baru, saya tertarik kepada yang belum saya kenal, dan satu-satunya jalan menuju yang belum saya kenal adalah lewat menembus hambatan”. Orang yang mampu beradaptasi selalu memprioritaskan terobosan baru. Mereka sangat mau diajar.

2. Tenteram secara emosional
Karakteristik lain dari orang yang mampu beradaptasi adalah ketenteraman. Orang-orang yang tidak tenteram secara emosional memandang hampir segalanya sebagai tantangan atau ancaman. Mereka sambut dengan kekakuan atau kecurigaan, setiap tambahan orang berbakat ke dalam tim mereka, perubahan posisi atau nama jabatan mereka, atau perubahan dalam cara kerja. Tetapi orang-orang yang tenteram tidaklah menjadi gugup akibat perubahan itu sendiri. Mereka evaluasi setiap situasi baru atau setiap perubahan dalam tanggung jawab mereka menurut kebaikannya.


3. Kreatif
Kreativitas adalah satu lagi kualitas yang anda temukan pada orang yang mampu beradaptasi. Ketika datang masa-masa sulit, mereka temukan jalan. Quincy Jones berkomentar,
Ada suatu ungkapan yang mengatakan bahwa usia seseorang itu dapat ditentukan dari tingkat kepedihan yang dialaminya ketika ia berhubungan dengan sebuah ide baru. Mungkin seseorang mengatakan, “ayo kita coba cara baru ini”. Anda sungguh dapat melihat kepedihannya. Orang-orang ini akan memegangi kepala mereka. Sungguh sakit rasanya, membayangkan mengerjakan sesuatu yang berbeda. Mereka-mereka yang tidak reaktif ketakutanlah yang benar-benar kreatif. “ayo coba”, mereka akan mengatakan. “ayo coba seandainya nantipun kita gagal”.
Kreativitas mendorong kemampuan beradaptasi.

4. Berpikiran melayani
Orang yang terfokus pada diri sendiri kemungkinan kecil mengadakan perubahan-perubahan bagi timnya ketimbang orang-orang yang terfokus pada melayani sesamanya. Pendidik sekaligus presiden kampus, Horace Mann, pernah mengatakan, “tidak berbuat apa-apa bagi sesama sama saja dengan melucuti diri sendiri”. Kalau sasaran anda adalah melayani tim, beradaptasi untuk mencapai sasaran tersebut takkan sulit.

Agar lebih mampu beradaptasi:
 Biasakanlah diri belajar !
 Evaluasi ulanglah peran anda !
 Berpikirlah diluar garisnya !